IHSG Dibuka Memerah di Level 8.148 pada Perdagangan Pagi

Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan akhir pekan dengan tren negatif. Pada pembukaan pasar Jumat (27/2/2026) pagi, indeks kebanggaan bursa domestik ini terpantau langsung meluncur ke zona merah, berada di level 8.148. Pelemahan ini memutus tren penguatan yang sempat terjadi pada sesi penutupan hari sebelumnya, sekaligus mencerminkan sikap hati-hati para pelaku pasar menghadapi dinamika ekonomi terkini.

Sentimen Global dan Tekanan Jual

Pelemahan IHSG di level 8.148 ini tidak terlepas dari pengaruh bursa global yang juga mengalami tekanan serupa. Berdasarkan data perdagangan awal, sektor perbankan dan teknologi menjadi penekan utama indeks pagi ini. Para investor asing terpantau melakukan aksi jual bersih (net sell) di beberapa saham berkapitalisasi besar (blue chip). Kondisi ini disinyalir sebagai respons terhadap rilis data inflasi di Amerika Serikat yang masih berada di atas ekspektasi, sehingga memicu kekhawatiran akan kebijakan suku bunga yang tetap ketat dalam waktu lebih lama.

Selain faktor eksternal, kondisi makroekonomi dalam negeri juga memberikan pengaruh. Meskipun fundamental ekonomi Indonesia dinilai cukup resilien, fluktuasi nilai tukar rupiah yang sempat melemah terhadap dolar AS menjadi perhatian serius bagi para manajer investasi. Penurunan indeks di awal sesi ini menunjukkan bahwa pasar sedang melakukan penyesuaian harga atau rebalancing portofolio untuk mengantisipasi risiko volatilitas yang mungkin meningkat sepanjang hari.

Pergerakan Sektoral dan Proyeksi Pasar

Secara sektoral, indeks sektor keuangan mengalami penurunan terdalam, diikuti oleh sektor properti yang sensitif terhadap pergerakan suku bunga. Namun, di tengah memerahnya indeks, sektor energi masih menunjukkan perlawanan tipis berkat kenaikan harga komoditas minyak mentah dunia. Para analis memprediksi bahwa IHSG hari ini akan bergerak di rentang support 8.120 hingga resistance 8.200.

Meskipun dibuka melemah, potensi untuk berbalik arah atau rebound masih terbuka lebar jika aksi beli selektif muncul pada sesi kedua nanti. Investor disarankan untuk tetap mencermati rilis laporan keuangan emiten kuartal pertama tahun 2026 yang tengah berlangsung, karena kinerja perusahaan yang positif dapat menjadi katalis kuat bagi pemulihan indeks di penghujung perdagangan.